X

Pengumuman

Likuiditas longgar, ruang kredit syariah terbuka

Likuiditas longgar, ruang kredit syariah terbuka

JAKARTA. Penyerapan pembiayaan perbankan syariah tahun 2016 melambat. Ini membuat rasio likuiditas melonggar.

Statistik Perbankan Syariah (SPS) Jasa Keuangan (OJK) mencatat, financing to deposit ratio (FDR) bank syariah tahun 2016 turun menjadi 86% dari sebelumnya 88,03%.

Sejumlah bank syariah pun berniat menggeber lagi pembiayaan. Bank Syariah Mandiri (BSM), semisal, menyasar sektor infrastruktur dan pembiayaan jangka panjang. “Likuditas kami hampir Rp 17 triliun. Sehingga pada prinsipnya ini pembiayaan harus tumbuh lebih tinggi dari dana,” kata Kusman Yandi, Direktur Wholesale Banking BSM, pekan lalu.

Tahun ini, anak usaha Bank Mandiri ini menargetkan dapat menyalurkan pembiayaan ke sektor infrastruktur Rp 5 triliun. Selain infrastruktur, BSM juga akan memperkuat pembiayaan ritel.

Senior Executive Vice President Retail Banking BSM, Niken Andonowarih menerangkan, pihaknya mengincar pertumbuhan pembiayaan ritel 10% tahun ini. “Usaha kecil, mikro, konsumer, griya, gadai emas dan pensiunan kami akan tingkatkan untuk tumbuh,” imbuh Niken.

Tahun lalu, realisasi pembiayaan ritel BSM mencapai Rp 30,74 triliun, atau naik 8,2%. Dengan asumsi target pembiayaan tahun ini 10%-12%, pembiayaan ritel BSM akan menjadi Rp 34,42 triliun.

Sebagai informasi saja, FDR BSM per akhir 2016 berada di level 81%, turun tipis dari tahun 2015 yang sebesar 82%.

Demikian halnya dengan PT Bank BNI Syariah juga mencetak penurunan penyerapan kredit sehingga FDR turun menjadi 84,57% dari tahun 2015 sebesar 91,94%. Senior EVP Bisnis dan Komersial BNI Syariah Dhias Widhiyawati mengatakan, pihaknya akan menggenjot pembiayaan ke seluruh sektor.

Khususnya sektor infrastruktur, energi serta kredit kecil menengah terutama perdagangan, hotel dan restoran. “Tahun ini kami fokus menjaga kualitas pembiayaan,” kata Dhias kepada KONTAN, Minggu (5/3).

Secara terpisah, Kepala Divisi Dana dan Transaksi BNI Syariah, Rima Permatasari mengungkap, BNI Syariah akan tetap fokus mendorong pembiayaan sektor konsumer. “Sektor pembiayaan yang paling terserap adalah konsumer, khususnya griya” ujar Rima.

Tahun 2016, pembiayaan BNI Syariah mencapai Rp 20,49 triliun, atau tumbuh 15,96%. Dari jumlah itu, segmen penopang pertumbuhan masih dipegang oleh pembiayaan konsumer sebesar Rp 10,91 triliun. Adapun dari keseluruhan pembiayaan konsumer BNI Syariah, sekitar Rp 9 triliun disumbang dari produk griya.

Sebagai gambaran, disisi lain dana pihak ketiga (DPK) BNI Syariah naik hingga 25,41% per akhir 2016 menjadi Rp 24,23 triliun.

Senin, 06 Maret 2017 / 09:19 WIB

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang

Editor: Adi Wikanto

Sumber berita: http://keuangan.kontan.co.id/news/likuiditas-longgar-ruang-kredit-syariah-terbuka

Likuiditas longgar, ruang kredit syariah terbuka

JAKARTA. Penyerapan pembiayaan perbankan syariah tahun 2016 melambat. Ini membuat rasio likuiditas melonggar.

Statistik Perbankan Syariah (SPS) Jasa Keuangan (OJK) mencatat, financing to deposit ratio (FDR) bank syariah tahun 2016 turun menjadi 86% dari sebelumnya 88,03%.

Sejumlah bank syariah pun berniat menggeber lagi pembiayaan. Bank Syariah Mandiri (BSM), semisal, menyasar sektor infrastruktur dan pembiayaan jangka panjang. “Likuditas kami hampir Rp 17 triliun. Sehingga pada prinsipnya ini pembiayaan harus tumbuh lebih tinggi dari dana,” kata Kusman Yandi, Direktur Wholesale Banking BSM, pekan lalu.

Tahun ini, anak usaha Bank Mandiri ini menargetkan dapat menyalurkan pembiayaan ke sektor infrastruktur Rp 5 triliun. Selain infrastruktur, BSM juga akan memperkuat pembiayaan ritel.

Senior Executive Vice President Retail Banking BSM, Niken Andonowarih menerangkan, pihaknya mengincar pertumbuhan pembiayaan ritel 10% tahun ini. “Usaha kecil, mikro, konsumer, griya, gadai emas dan pensiunan kami akan tingkatkan untuk tumbuh,” imbuh Niken.

Tahun lalu, realisasi pembiayaan ritel BSM mencapai Rp 30,74 triliun, atau naik 8,2%. Dengan asumsi target pembiayaan tahun ini 10%-12%, pembiayaan ritel BSM akan menjadi Rp 34,42 triliun.

Sebagai informasi saja, FDR BSM per akhir 2016 berada di level 81%, turun tipis dari tahun 2015 yang sebesar 82%.

Demikian halnya dengan PT Bank BNI Syariah juga mencetak penurunan penyerapan kredit sehingga FDR turun menjadi 84,57% dari tahun 2015 sebesar 91,94%. Senior EVP Bisnis dan Komersial BNI Syariah Dhias Widhiyawati mengatakan, pihaknya akan menggenjot pembiayaan ke seluruh sektor.

Khususnya sektor infrastruktur, energi serta kredit kecil menengah terutama perdagangan, hotel dan restoran. “Tahun ini kami fokus menjaga kualitas pembiayaan,” kata Dhias kepada KONTAN, Minggu (5/3).

Secara terpisah, Kepala Divisi Dana dan Transaksi BNI Syariah, Rima Permatasari mengungkap, BNI Syariah akan tetap fokus mendorong pembiayaan sektor konsumer. “Sektor pembiayaan yang paling terserap adalah konsumer, khususnya griya” ujar Rima.

Tahun 2016, pembiayaan BNI Syariah mencapai Rp 20,49 triliun, atau tumbuh 15,96%. Dari jumlah itu, segmen penopang pertumbuhan masih dipegang oleh pembiayaan konsumer sebesar Rp 10,91 triliun. Adapun dari keseluruhan pembiayaan konsumer BNI Syariah, sekitar Rp 9 triliun disumbang dari produk griya.

Sebagai gambaran, disisi lain dana pihak ketiga (DPK) BNI Syariah naik hingga 25,41% per akhir 2016 menjadi Rp 24,23 triliun.

Senin, 06 Maret 2017 / 09:19 WIB

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang

Editor: Adi Wikanto

Sumber berita: http://keuangan.kontan.co.id/news/likuiditas-longgar-ruang-kredit-syariah-terbuka

Related

Share